Minggu, 28 Juni 2015

sinopsis ansatsu kyoushitsu

Ansatsu Kyoushitsu


Sebagian dari bentuk bulan telah dihancurkan karena ledakan misterius, bulan terlihat sabit permanen. hampir semua upaya yang dilakukan pemerintah untuk membunuhnya selalu gagal. alien berwajah bundar kuning ini mengancam akan meledakan bumi dalam 1 tahun.

Namun, dia memberi syarat agar dia dapat mengajar sebuah kelas dalam kurun waktu setahun dan memberi kesempatan murid-murid itu untuk membunuhnya sebelum akhir tahun 
Begitu aba-aba terdengaar, mendadak seisi kelas 3-E (end) SMP Kunugigaoka. Kelas pembunuh. Dimana seluruh muridnya berlomba-lomba merenggut nyawa wali kelas mereka. Kehidupan yang jauh dari normal ketika Guru dan Murid menjadi sasaran dan pembunuh pun dimulai.


 






Guru kelas 3-E :
 
Pak koro


 


Tanggal lahir : tidak diketahui
Tinggi tubuh : kira-kira 3 m
Berat tubuh : diperkirakan cukup ringan
Pengalaman : makhluk penghancur super, guru wali kelas E
Keahlian : bergerak dengan kecepatan super
Moto : satu kelas bersatu dalam usaha pembunuhan
Keunggulan : sangat mudah digambar
Kelemahan : terlihat konyol saat berusaha bersikap keren, cepat panik, berhati sempit, pukulannya lemah, payudara, mabuk kendaraan

Tadaomi kurasuma

 


Tanggal lahir : 15 agustus
Tinggi badan : 180 cm
Berat badan : 85 kg
Riwayat pekerjaan : divisi 1 pasukan terjun payung -> badan intelijen -> unit operasi khusus -> guru olah raga kela 3-E
Keahlian : berbagai seni bertarung

Irina jelavic

nama panggilan : kak bitch, bu bitch
tanggal lahir : 10 oktober
tinggi badan : 170 cm
berat badan : 50 kg
pekerjaan : guru bahasa inggri kelas 3-E, pembunuh profesional

Beberapa Murid kelas 3 E

Nagisa shota





Karma Akabane


 tomohito sugino

 



Megu Kataoka

Manami Okuda





Sebuah film live-action adaptasi mendatang Yusei Matsui manga Assassination Classroom akan dirilis di Jepang pada tanggal 21 Maret 2015. 




Jumat, 26 Juni 2015

Festival Boneka Hina Matsuri

Festival Boneka Hina Matsuri



Sering kali di manga atau anime Jepang ada perayaan yang menyusun boneka, itu bukan hanya sekedar menyusun lho... itu adalah sebuah tradisi di Jepang yang selalu diadakan pada tanggal 3 Maret, Hina Matsuri adalah nama dari tradisi ini.


Hina Matsuri adalah sebuah acara peraayaan tradisional bagi anak perempuan dan untuk mendoakan anak perempuannya agar untuk kebahagiaan masa depan dan kesejahteraan anak perempuan mereka. Keluarga yang memiliki anak perempuan akan memajang satu set boneka yang disebut Hinaningyo (boneka festival) bersama dengan sajian bunga persik. Sebelum hari perayaan tiba, anak-anak membantu orang tua mengeluarkan boneka dari kotak penyimpanan untuk dipajang. Sehari sesudah Hinamatsuri, boneka harus segera disimpan karena dipercaya sudah menyerap roh-roh jahat dan nasib sial. 



Ningyo èBoneka dalam bahasa Jepang secara harfiah berarti  bentuk manusia  ada banyak  bentuk boneka Jepang, Bentuk anak-anak, bayi, anggota kerajaan, prajurit dan pahlawan dalam dongeng, dewa-dewa, dan terkadang setan. Ada juga boneka –boneka yg mewakili tampilan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak diantaranya  memiliki sejarah panjang dan tetap diproduksi hingga hari ini. Umumnya boneka tradisional Jepang  digunakan di kuil-kuil, diberikan sebagai bingkisan atau dipajang  pada hari-hari besar seperti Hina Matsuri (Pesta Boneka –perayaan anak perempuan) atau kodomo no hi (hari anak-pesta perayaan ank laki-laki).

Satu set boneka terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik istana yang menggambarkan upacara perkawinan tradisional di Jepang. Pakaian yang dikenakan boneka adalah kimono gaya zaman Heian. Perayaan ini sering disebut Festival Boneka atau Festival Anak Perempuan karena berawal permainan boneka di kalangan putri bangsawan yang disebut hiina asobi (bermain boneka puteri). Satu set boneka biasanya dilengkapi dengan miniatur tirai lipat (byōbu) berwarna emas untuk dipasang sebagai latar belakang. Di sisi kiri dan kanan diletakkan sepasang miniatur lampion (bombori). Perlengkapan lain berupa miniatur pohon sakura dan pohon tachibana, potongan dahan bunga persik sebagai hiasan.

Orang Jepang pada zaman Edo terus mempertahankan cara memajang boneka seperti tradisi yang diwariskan turun temurun sejak zaman Heian. Boneka dipercaya memiliki kekuatan untuk menyerap roh-roh jahat ke dalam tubuh boneka, dan karena itu menyelamatkan sang pemilik dari segala hal-hal yang berbahaya atau sial. Asal-usul konsep ini adalah hinanagashi ("menghanyutkan boneka"). Boneka diletakkan di wadah berbentuk sampan, dan dikirim dalam perjalanan menyusuri sungai hingga ke laut dengan membawa serta roh-roh jahat.
Kalangan bangsawan dan samurai dari zaman Edo menghargai boneka Hinamatsuri sebagai modal penting untuk wanita yang ingin menikah, dan sekaligus sebagai pembawa keberuntungan. Sebagai lambang status dan kemakmuran, orang tua berlomba-lomba membelikan boneka yang terbaik dan termahal bagi putrinya yang ingin menjadi pengantin.
Mulai sekitar akhir zaman Edo hingga awal zaman Meiji, boneka Hinamatsuri yang mulanya hanya terdiri dari sepasang kaisar dan permaisuri berkembang menjadi satu set boneka lengkap berikut boneka puteri istana, pemusik, serta miniatur istana, perabot rumah tangga dan dapur. Sejak itu pula, boneka dipajang di atas dankazari (tangga untuk memajang), dan orang di seluruh Jepang mulai merayakan hinamatsuri secara besar-besaran.
Tangga teratas disusun dua boneka yang melambangkan kaisar dan permaisuri 
Tangga kedua disusun tiga boneka puteri istana yang membawa peralatan minum sake, dan boneka putri yang ditengah membawa mangkuk sake dan dua boneka putri yang lainnya membawa poci sake dan wadah sake
Tangga ketiga tersusun lima boneka pemusik pria, empat musisi masing-masing membawa alat musik, kecuali penyanyi yang membawa kipas lipat
Tangga keempat tersusun dua boneka menteri yang terdiri dari menteri kanan dan kiri
Tangga kelima tersusun tiga boneka pesuruh, ketiganya membawa bungkusan berisi kopi yang dibawa dengan sebilah tongkat, sepatu yang diletakan diatasa sebuah nampan dan payung panjang dalam keadaan tertutup

Rabu, 24 Juni 2015

Boneka penangkal hujan "Teru-teru-bōzu"



Boneka penangkal hujan "Teru-teru-bōzu"






Kadang hujan memang turun tiba-tiba, dan kita yang biasanya akan pergi keluar rumah pun jadi membatalkan rancana. Tapi, kalo urusan nya penting ya apa boleh buat harus segera pergi walau pun hari sedang hujan. Huft, memang menyebalkan kalau harus keluar saat hujan. Di Jepang ada cara menghentikan hujan dengan cara menggantung kan boneka yang bernama Teru teru bōzu. Teru teru bōzu (bahasa Jepang: 照る照る坊主、てるてる坊主) adalah boneka tradisional Jepang yang terbuat dari kertas atau kain putih yang digantung di tepi jendela dengan menggunakan benang.. Jimat ini diyakini memiliki kekuatan ajaib yang mampu mendatangkan cuaca cerah dan menghentikan atau mencegah hujan
 
Dalam bahasa Jepang, teru adalah kata kerja yang berarti "bersinar" atau "cerah"

bōzu dapat berarti bhiksu, atau dalam bahasa pergaulan masa kini dapat berarti "kepala botak" kata itu juga merupakan istilah akrab untuk menyebut bocah lelaki. 

Teru teru bōzu menjadi populer selama zaman Edo di antara masyarakat urban, di mana anak-anak membuatnya untuk memohon cuaca baik sehari sebelumnya dan bernyanyi "pendeta cuaca baik, cerahkan cuaca esok hari." Di masa modern, anak-anak biasanya membuat teru teru bozu menjelang acara piknik sekolah dengan harapan agar cuaca cerah sepanjang hari waktu pinik.. para petani juga membuat teru-teru-bōzu dari kertas tisu atau kapas dan benang lalu menggantungnya secara terbalik berarti memohon agar hujan turun.

Secara tradisonal, jika cuaca berubah cerah, mereka akan digambari mata (bandingkan dengan daruma), sesajen berupa sake suci dituangkan pada mereka, kemudian dihanyutkan di sungai. di jendela ketika mengharapkan hari yang cerah, seringkali sebelum hari piknik sekolah.
saat menangkal hujan, kita juga haru menanyikan lagu. berikut lirik lagunya :

Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Teru-Teru-bōzu, bōzu Teru
Ashita tenki ni shite o-kure

Buatlah esok hari menjadi cerah untukku
Itsuka no yume no sora no yō ni

Seperti mimpiku pada suatu waktu
Haretara kin no suzu ageyo

Jika cerah, kuberi kamu bel emas.
Teru-teru-bōzu, teru bōzu

Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure

Buatlah esok hari menjadi cerah untukku
Watashi no negai wo kiita nara

Kabulkan keinginanku
Amai o-sake wo tanto nomasho

Lalu kita minum sake

Teru-teru-bōzu, teru bōzu

Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure

Buatlah esok hari menjadi cerah untukku
Sorete mo kumotte naitetara

Tetapi jika mendung dan anda menangis
Sonata no kubi wo chon to kiru zo

Lalu aku akan memotong putus kepalamu.

Kabarnya lagu ini mepunyai sejarah kelam tentang kisah seorang biarawan yang berjanji pada para petani untuk menghentikan hujan dan membawa cuaca cerah selama periode hujan berkepanjangan. Namun ternyata biarawan tersebut gagal membawa sinar matahari untuk para petani dan akhirnya dihukum mati.