Jumat, 26 Juni 2015

Festival Boneka Hina Matsuri

Festival Boneka Hina Matsuri



Sering kali di manga atau anime Jepang ada perayaan yang menyusun boneka, itu bukan hanya sekedar menyusun lho... itu adalah sebuah tradisi di Jepang yang selalu diadakan pada tanggal 3 Maret, Hina Matsuri adalah nama dari tradisi ini.


Hina Matsuri adalah sebuah acara peraayaan tradisional bagi anak perempuan dan untuk mendoakan anak perempuannya agar untuk kebahagiaan masa depan dan kesejahteraan anak perempuan mereka. Keluarga yang memiliki anak perempuan akan memajang satu set boneka yang disebut Hinaningyo (boneka festival) bersama dengan sajian bunga persik. Sebelum hari perayaan tiba, anak-anak membantu orang tua mengeluarkan boneka dari kotak penyimpanan untuk dipajang. Sehari sesudah Hinamatsuri, boneka harus segera disimpan karena dipercaya sudah menyerap roh-roh jahat dan nasib sial. 



Ningyo èBoneka dalam bahasa Jepang secara harfiah berarti  bentuk manusia  ada banyak  bentuk boneka Jepang, Bentuk anak-anak, bayi, anggota kerajaan, prajurit dan pahlawan dalam dongeng, dewa-dewa, dan terkadang setan. Ada juga boneka –boneka yg mewakili tampilan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak diantaranya  memiliki sejarah panjang dan tetap diproduksi hingga hari ini. Umumnya boneka tradisional Jepang  digunakan di kuil-kuil, diberikan sebagai bingkisan atau dipajang  pada hari-hari besar seperti Hina Matsuri (Pesta Boneka –perayaan anak perempuan) atau kodomo no hi (hari anak-pesta perayaan ank laki-laki).

Satu set boneka terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik istana yang menggambarkan upacara perkawinan tradisional di Jepang. Pakaian yang dikenakan boneka adalah kimono gaya zaman Heian. Perayaan ini sering disebut Festival Boneka atau Festival Anak Perempuan karena berawal permainan boneka di kalangan putri bangsawan yang disebut hiina asobi (bermain boneka puteri). Satu set boneka biasanya dilengkapi dengan miniatur tirai lipat (byōbu) berwarna emas untuk dipasang sebagai latar belakang. Di sisi kiri dan kanan diletakkan sepasang miniatur lampion (bombori). Perlengkapan lain berupa miniatur pohon sakura dan pohon tachibana, potongan dahan bunga persik sebagai hiasan.

Orang Jepang pada zaman Edo terus mempertahankan cara memajang boneka seperti tradisi yang diwariskan turun temurun sejak zaman Heian. Boneka dipercaya memiliki kekuatan untuk menyerap roh-roh jahat ke dalam tubuh boneka, dan karena itu menyelamatkan sang pemilik dari segala hal-hal yang berbahaya atau sial. Asal-usul konsep ini adalah hinanagashi ("menghanyutkan boneka"). Boneka diletakkan di wadah berbentuk sampan, dan dikirim dalam perjalanan menyusuri sungai hingga ke laut dengan membawa serta roh-roh jahat.
Kalangan bangsawan dan samurai dari zaman Edo menghargai boneka Hinamatsuri sebagai modal penting untuk wanita yang ingin menikah, dan sekaligus sebagai pembawa keberuntungan. Sebagai lambang status dan kemakmuran, orang tua berlomba-lomba membelikan boneka yang terbaik dan termahal bagi putrinya yang ingin menjadi pengantin.
Mulai sekitar akhir zaman Edo hingga awal zaman Meiji, boneka Hinamatsuri yang mulanya hanya terdiri dari sepasang kaisar dan permaisuri berkembang menjadi satu set boneka lengkap berikut boneka puteri istana, pemusik, serta miniatur istana, perabot rumah tangga dan dapur. Sejak itu pula, boneka dipajang di atas dankazari (tangga untuk memajang), dan orang di seluruh Jepang mulai merayakan hinamatsuri secara besar-besaran.
Tangga teratas disusun dua boneka yang melambangkan kaisar dan permaisuri 
Tangga kedua disusun tiga boneka puteri istana yang membawa peralatan minum sake, dan boneka putri yang ditengah membawa mangkuk sake dan dua boneka putri yang lainnya membawa poci sake dan wadah sake
Tangga ketiga tersusun lima boneka pemusik pria, empat musisi masing-masing membawa alat musik, kecuali penyanyi yang membawa kipas lipat
Tangga keempat tersusun dua boneka menteri yang terdiri dari menteri kanan dan kiri
Tangga kelima tersusun tiga boneka pesuruh, ketiganya membawa bungkusan berisi kopi yang dibawa dengan sebilah tongkat, sepatu yang diletakan diatasa sebuah nampan dan payung panjang dalam keadaan tertutup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar